Orang Bunian yang Selalu Meramaikan

Selain terkenal dengan jampi Tuju-tuju, Natuna dan pulau-pulau lain yang termasuk dalam gugusan Pulau Tujuh, menyimpan sejuta misteri yang sulit diterima logika modern.

BACA SEBELUMNYA: TUJU-TUJU DAN LATIHAN PERANG NATUNA

Di pulau yang terdapat susunan batu alam raksasa itu, hingga saat ini diyakini masih dihuni oleh sejumlah mahluk ghaib.

Sebagian orang menyebutnya orang Bunian, sebagian lagi mengenalnya dengan nama orang Bedung.

Orang-orang tak kasat mata ini hidup berdampingan dengan masyarakat Natuna. Mereka memiliki perkampungan-perkampungan layaknya seperti perkampungan penduduk di tengah hutan blantara, kaki gunung maupun pinggir-pinggir kampung.

Mereka juga diyakini selalu menampakkan wujud seperti manusia biasa dan berbaur di tengah-tengah masyarakat.

Hal ini kerap terjadi saat diselenggarakannya pesta rakyat atau panggung-panggung hiburan di Natuna, maupin pulau-pulau lainnya di gugusan Pulau Tujuh.

Pernah suatu ketia di Natuna diadakan hiburan rakyat yanh mengundang artis dari Jakarta. Tanpa disadari lapangan yang di gunakan untuk pertunjukkan tersebut menjadi lautan manusia. Padahal jika dihitung dan dicermati, penduduk Ranai, ibukota Natuna ditambah dengan penduduk pulau-pulau kecil lainnya yang berada di seputaran Ranai, tidaklah sampai sebanyak itu.

“Ramai sekali yang datang, entah dari mana-mana saja, wajahnya pun asing tak pernah kelihatan, tapi mereka ramah dan berbaur seperti penduduk tempatan,” ujar Wak Din, salah seorang warga Natuna menceritakan.

Orang Bunian atau Orang Bedung ini pun tak pernah mengganggu masyarakat Natuna, terlebih jika tempat-tempat yang diyakini menjadi perkamoungan mereka tidak diganggu.

“Kalau tak diusek (diganggu) die takkan mengganggu,” unjat Wak Din berseloroh.

Kalau pun akan membuka hutan maupun masuk ke tempat-tempat yang tak lazim dilalui orang, Wak Din berpesa  agar meminta izin terlebih dahulu.

“Mereka sama juga kayak kite, ada rumah, ada sumur, ada tempat bermain, kalau kite tak permisi, takut-takut kite terpijak tempat makan mereka, atau meludah di sumur mereka, cilake kite,” sebutnya.(novianto/bersambung)